JALAN PENGHUBUNG ATAU JALAN POROS DESA YANG MENGHUBUNGKAN ANTARA DUSUN PAMOTAN NGEGRENG PARAH TOTAL TIDAK BISA DILALUI MASYARAKAT

oleh -134 Dilihat
oleh

LAMONGAN ;SUARA KPK NEWS. COM Di tengah hamparan sawah hijau dan suasana pedesaan yang tenang, tersimpan kisah perjuangan warga yang tak banyak terlihat. Sebuah jalan poros desa di wilayah Sambeng, Lamongan, Jawa Timur, kini berubah menjadi jalur yang sulit dilalui.
Jalan penghubung antara Dusun Pamotan dan Dusun Ngegreng itu tak lagi mulus seperti yang diharapkan. Permukaannya hancur, dipenuhi tanah lembek dan lumpur tebal. Bekas roda kendaraan membentuk cekungan-cekungan dalam, menyerupai kubangan kecil yang siap menjebak siapa saja yang melintas.
Setiap hari, warga harus berjibaku dengan kondisi tersebut.

 

Sepeda motor tak lagi bisa dikendarai dengan nyaman. Banyak yang terpaksa turun, menuntun kendaraannya pelan-pelan agar tidak tergelincir. Bahkan, tak jarang mereka harus saling membantu mendorong motor yang terperosok di lumpur.
Bagi para petani, jalan ini adalah urat nadi kehidupan. Dari sinilah mereka berangkat menuju sawah sejak pagi buta, membawa cangkul dan harapan. Dari jalan ini pula hasil panen diangkut untuk dijual demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Anak-anak sekolah pun merasakan hal yang sama. Dengan seragam bersih dan sepatu yang kadang harus kotor oleh lumpur, mereka tetap melangkah hati-hati demi bisa sampai ke sekolah tepat waktu.
Bukan sekadar jalan rusak, tetapi ada cerita lelah, cemas, dan harapan yang menyertainya.
Saat hujan turun, kondisi semakin memprihatinkan. Jalan berubah licin, membahayakan pengendara. Kekhawatiran akan terjatuh atau mengalami kecelakaan selalu menghantui setiap orang yang melintas.
Warga hanya bisa berharap, agar akses yang menjadi penghubung utama kehidupan mereka ini segera mendapat perhatian. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Rebi, masyarakat menantikan solusi nyata, karena bagi mereka, perbaikan jalan bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan tentang keselamatan, ekonomi, dan masa depan anak-anak mereka.
Di desa yang sederhana ini, harapannya pun sederhana: jalan yang layak, agar roda kehidupan kembali berjalan.

REDAKSI: GAGUK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *