Bangun Ketangguhan dari Tingkat Kelurahan, FPRB Probolinggo Dorong Sinergi Pentahelix

oleh -23 Dilihat
oleh

PROBOLINGO | SUARA KPK NEWS – Membangun masyarakat tangguh bencana membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat di tingkat lingkungan. Semangat kolaborasi tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Jambore Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Probolinggo di kawasan Pantai Perikanan Pantai (PPP) Mayangan, Jumat (16/10/2026).

Kegiatan yang diikuti sekitar 250 peserta itu melibatkan relawan Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) dari 29 kelurahan serta unsur pentahelix, yang terdiri atas pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut diarahkan untuk memperkuat koordinasi dan memperluas kontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin yang bertindak sebagai pembina apel menegaskan pentingnya membangun kesiapsiagaan melalui kerja sama pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, upaya mitigasi perlu dilaksanakan sebelum bencana terjadi agar potensi dampak terhadap warga dapat diminimalkan.

“Kami berharap forum ini dapat bersama-sama menciptakan Kota Probolinggo menjadi kota yang tangguh terhadap bencana,” tegas Aminuddin.

Ketua Panitia Jambore FPRB, Syaifudin Zuhri, menjelaskan bahwa pelibatan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut dimaksudkan untuk memperkuat jejaring kerja sama dan meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi potensi bencana.

Selain apel bersama dan pembekalan materi, kegiatan juga diisi simulasi penyelamatan di perairan atau *water rescue* oleh tim PT Paiton Operation and Maintenance Indonesia (POMI). Dalam rangkaian acara yang sama, Ketua FPRB Kota Probolinggo Sugeng Nufindarko bersama pihak PT POMI menandatangani nota kesepahaman sebagai bagian dari kolaborasi lintas sektor.

Peran relawan Keltana turut menjadi perhatian karena mereka berada paling dekat dengan masyarakat. Relawan diharapkan dapat membantu mengenali potensi ancaman, menyebarkan informasi, serta mendorong penerapan langkah kesiapsiagaan berdasarkan kondisi wilayah masing-masing.

Sementara itu, unsur akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media diharapkan dapat mendukung pengembangan pengetahuan, penyediaan dukungan sesuai kapasitas, serta penyebaran edukasi kebencanaan kepada masyarakat.

Melalui sinergi tersebut, FPRB diharapkan menjadi ruang koordinasi yang mempertemukan berbagai kepentingan dalam tujuan bersama, yakni mengurangi risiko bencana dan meningkatkan keselamatan warga.

Penguatan budaya sadar bencana tidak hanya bergantung pada kegiatan seremonial, tetapi juga pada konsistensi penerapan pengetahuan dan kesiapsiagaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan memperkuat peran relawan di 29 kelurahan serta membangun kolaborasi pentahelix, Kota Probolinggo diharapkan dapat meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi berbagai potensi ancaman bencana secara berkelanjutan. (Syl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *