Gerakan Desa Sehat Mata Dimulai dari Lopang, Mahasiswa UNESA Gandeng Puskesmas Cegah Gangguan Penglihatan Sejak Dini

oleh -6 Dilihat
oleh

LAMONGAN , SUARA KPK NEWS – Upaya membangun budaya hidup sehat tidak hanya menyasar persoalan gizi dan penyakit menular. Di Desa Lopang, Kecamatan Kembangbahu, perhatian kini mulai diarahkan pada meningkatnya gangguan penglihatan, terutama akibat paparan gawai berlebihan pada anak-anak.

 

Melalui program General Check Up Kesehatan Mata bertajuk “Gerakan Mahasiswa UNESA Fisika Mengabdi Bersama Masyarakat Sehat Mata”, Desa Lopang secara resmi mendeklarasikan diri sebagai Desa Sehat Mata Inklusif pada Jumat, 24 Juli 2026.

 

Kegiatan yang digelar di Aula Balai Desa Lopang ini dihadiri Kepala Desa Suparto, perangkat desa, tenaga kesehatan dari UPT Puskesmas Kembangbahu yang mewakili Dinas Kesehatan, serta mahasiswa Universitas Negeri Surabaya yang menjadi penggagas program.

 

Program ini menjadi langkah nyata kolaborasi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan. Layanan pemeriksaan tidak hanya terbuka untuk masyarakat umum, tetapi juga inklusif bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan lanjut usia.

Ketua Panitia, Nonnie, menyampaikan bahwa Desa Lopang merupakan desa pertama di Kecamatan Kembangbahu yang menerapkan konsep Desa Sehat Mata Inklusif. Ia berharap program ini bisa menjadi contoh bagi desa lain di Kabupaten Lamongan.

 

“Harapan kami, Desa Lopang dapat menjadi desa percontohan sehingga angka gangguan penglihatan di Kabupaten Lamongan bisa terus menurun,” ujarnya.

 

Selain pemeriksaan, mahasiswa juga memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan mata sejak usia dini. Nonnie mengingatkan bahwa penggunaan gadget dalam durasi lama, baik untuk belajar maupun aktivitas sehari-hari, dapat meningkatkan risiko low vision jika tidak diimbangi dengan pola penggunaan yang sehat.

 

Ia mengajak para orang tua untuk lebih aktif mengawasi kebiasaan penggunaan perangkat digital oleh anak-anak sebagai bentuk pencegahan sejak awal. Antusiasme warga terlihat tinggi. Salah satu peserta, Slamet, mengaku sangat terbantu dengan adanya layanan pemeriksaan mata gratis.

 

“Selama ini penglihatan saya sering kabur, baik untuk jarak dekat maupun jauh. Lewat pemeriksaan ini saya jadi tahu kondisi mata saya. Program seperti ini sangat bermanfaat, terutama bagi kami para lansia,” ungkapnya.

Kepala Desa Lopang, Suparto, menilai keberhasilan program kesehatan hanya bisa terwujud dengan dukungan semua pihak. Menurutnya, keterlibatan pemerintah desa, tenaga kesehatan, mahasiswa, hingga warga adalah kunci keberlanjutan.

 

“Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan mata. Kami berharap gerakan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi budaya hidup sehat di Desa Lopang,” katanya.

 

Suparto juga menyampaikan apresiasi kepada UPT Puskesmas Kembangbahu dan Ikatan Mahasiswa UNESA yang telah memberikan edukasi sekaligus pelayanan kesehatan mata kepada masyarakat.

 

Ia berharap keberadaan Desa Sehat Mata Inklusif dapat menjadi langkah awal dalam menekan angka gangguan penglihatan dan mencegah kebutaan di tingkat desa.

 

“Harapan saya, seluruh masyarakat Desa Lopang memiliki mata yang sehat dan semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan penglihatan,” pungkasnya. (Wahyu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *