PROBOLINGGO , SUARA KPK NEWS – Pemerintah Kota Probolinggo mencatatkan tonggak baru dalam upaya penguatan ketangguhan masyarakat terhadap bencana. Setelah melalui proses bertahap di seluruh wilayah, kini sebanyak 29 kelurahan resmi memiliki Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana). Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, menjadi kelurahan terakhir yang melengkapi program tersebut sekaligus menjadi salah satu Destana yang dibentuk secara langsung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur.
Peresmian berakhirnya pembentukan Destana di Jrebeng Kulon ditandai dengan penutupan kegiatan yang digelar pada Rabu (22/07/2026) pagi. Dengan selesainya program tersebut, Kota Probolinggo kini memiliki jaringan relawan kebencanaan yang tersebar di seluruh kelurahan sebagai mitra pemerintah dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana.
Hadir dalam kegiatan itu Sekretaris BPBD Kota Probolinggo Dedy Ristantama mewakili Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Boedi Harjanto, Fasilitator Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Probolinggo Eko Yudha, Lurah Jrebeng Kulon Ulfa Purnamaratih, Sekretaris Lurah, serta puluhan Relawan Destana.
Selama delapan hari pembekalan, para peserta memperoleh materi tentang identifikasi ancaman bencana, penyusunan dokumen mitigasi, sistem peringatan dini, hingga pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Berbeda dengan kelurahan lainnya, proses pembentukan Destana di Jrebeng Kulon mendapat pendampingan langsung dari BPBD Provinsi Jawa Timur.
Sekretaris BPBD Kota Probolinggo Dedy Ristantama mengatakan, tuntasnya pembentukan Destana di seluruh kelurahan menjadi bukti komitmen Pemerintah Kota Probolinggo dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang berbasis masyarakat.
Keberadaan relawan di setiap kelurahan dinilai akan memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi berbagai ancaman bencana, sekaligus mempercepat koordinasi antara masyarakat dan pemerintah.
“Hari ini menjadi momen yang membanggakan karena seluruh kelurahan di Kota Probolinggo telah memiliki Destana. Ini bukan sekadar pencapaian administrasi, tetapi langkah nyata membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana,” ujar Dedy.

Ilmu yang telah diterima para relawan, lanjutnya, harus menjadi bekal dalam memberikan edukasi kepada masyarakat agar budaya mitigasi bencana terus berkembang.
“Saya berharap seluruh relawan mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh kepada masyarakat. Jadilah penggerak yang mampu meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana,” katanya.
BPBD Kota Probolinggo juga memastikan akan terus memberikan pelayanan kepada masyarakat apabila sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.
“Apabila terjadi pohon tumbang, banjir, ataupun kejadian kebencanaan lainnya, masyarakat dapat langsung menghubungi BPBD Kota Probolinggo agar penanganan bisa dilakukan dengan cepat,” tegasnya.
Memasuki musim angin kencang, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah karena berpotensi memicu kebakaran.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah. Pencegahan merupakan langkah paling sederhana namun sangat penting untuk mengurangi risiko bencana,” imbuh Dedy.
Mengakhiri sambutannya, Dedy menutup secara resmi rangkaian pembentukan Destana di Jrebeng Kulon.
“Dengan mengucapkan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Pembentukan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo resmi saya nyatakan ditutup,” ucapnya.
Lurah Jrebeng Kulon Ulfa Purnamaratih menyampaikan rasa bangga karena wilayahnya dipercaya menjadi lokasi penutup program Destana sekaligus memperoleh pendampingan langsung dari BPBD Provinsi Jawa Timur.
Seluruh pembekalan yang berlangsung sejak 15 hingga 22 Juli 2026 dinilai telah meningkatkan kapasitas relawan dalam memahami langkah-langkah mitigasi bencana berbasis masyarakat.
“Alhamdulillah, seluruh tahapan pembentukan dan pembekalan telah selesai. Kami bersyukur Jrebeng Kulon menjadi bagian dari sejarah tuntasnya pembentukan Destana di seluruh Kota Probolinggo,” ujar Ulfa.
Ia menambahkan, keberhasilan program tersebut tidak lepas dari dukungan BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kota Probolinggo, serta para fasilitator yang mendampingi peserta sejak awal kegiatan.
“Terima kasih kepada BPBD Provinsi Jawa Timur dan BPBD Kota Probolinggo atas pendampingan dan ilmu yang diberikan kepada relawan kami. Ini menjadi modal penting dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana,” katanya.
Ulfa berharap keberadaan Destana tidak berhenti sebagai organisasi, tetapi menjadi pusat edukasi kebencanaan bagi masyarakat.
“Kami ingin Relawan Destana menjadi guru kebencanaan di lingkungan masing-masing, sehingga kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana semakin kuat,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua FPRB Kelurahan Jrebeng Kulon terpilih Haryono mengatakan forum yang dipimpinnya akan langsung bergerak menyusun langkah mitigasi terhadap potensi banjir yang selama ini menjadi ancaman utama di wilayah tersebut.
Tiga titik rawan banjir telah dipetakan sebagai prioritas penanganan. Selain itu, kerja bakti membersihkan gorong-gorong akan digelar bersama masyarakat melalui Program Gotku Resik sebagai upaya pencegahan sebelum musim penghujan tiba.
“Kami siap menjalankan amanah ini dengan membangun kolaborasi bersama masyarakat dan BPBD Kota Probolinggo. Pencegahan akan menjadi fokus utama agar risiko banjir di Jrebeng Kulon dapat ditekan sejak dini,” pungkas Haryono.
Rampungnya pembentukan Destana di Kelurahan Jrebeng Kulon sekaligus menandai selesainya target Pemerintah Kota Probolinggo dalam membentuk 29 Kelurahan Tangguh Bencana. Ke depan, keberadaan Destana diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan masyarakat yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi berbagai ancaman bencana melalui sinergi pemerintah, relawan, dan warga. (Syl)






