LAMONGAN | SUARA KPK NEWS — Bengawan Mati di Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Minggu (9/8/2026), berubah menjadi panggung rakyat. Ribuan warga berjajar di sepanjang bantaran sungai. Dentuman musik dan dihadiri artis pendangdut Ratna Antika berpadu dengan riuh sorak penonton yang sejak pagi memadati lokasi. Di atas aliran Bengawan Mati, 32 peserta mengayuh perahu, berlomba menjadi yang tercepat dalam Festival Lomba Pacu Jalur di Desa Tejoasri.
Namun, di balik kemeriahan itu, ada cerita yang jauh lebih penting: sebuah pesta olahraga air yang tumbuh dari inisiatif masyarakat dan perlahan mulai menarik perhatian pemerintah hingga peserta dari luar daerah.
Festival yang kini memasuki tahun keempat tersebut bukan sekadar perlombaan. Ia menjadi gambaran bagaimana ruang publik di desa dapat dihidupkan ketika masyarakat memiliki gagasan, kemauan dan keberanian untuk mengelolanya.
Bupati Lamongan, Dr. H. Yuhronur Efendi, M.B.A., M.EK, mengakui tingginya antusiasme masyarakat terhadap festival tersebut.
“Hari ini meriah sekali. Tadi sudah kita saksikan mulai pagi, antusiasme masyarakat juga begitu tinggi karena hari ini adalah Festival Dayung yang ke-4.”
Menurut Yuhronur, perkembangan festival terlihat dari tahun ke tahun. Bukan hanya dari sisi kemasan, tetapi juga kualitas pertandingan dan kemampuan para peserta.

“Setiap tahun ada sesuatu yang baru. Diperbaiki baik dari sisi penampilan maupun kualitas pertandingannya. Tahun ini juga lebih baik,” ujarnya.
Ia menilai proses pembenahan yang dilakukan panitia, atlet dan seluruh pihak yang terlibat menunjukkan bahwa Festival Pacu Jalur Tejoasri memiliki potensi untuk terus berkembang.
“Artinya, ini terus menuju yang lebih baik, terus berbenah, baik dari atletnya, panitia dan semuanya,” katanya. Kepala Desa Tejoasri, Yusuf Bachtiar, melihat festival tersebut sebagai ruang untuk memperkenalkan potensi desa sekaligus membuka peluang lebih besar bagi masyarakat.
Jika Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan perhatian dan menjadikan Tejoasri sebagai salah satu agenda tahunan, pemerintah desa menyatakan siap menyambutnya.
“Kalau Pemprov melirik Desa Tejoasri dijadikan agenda tahunan Pemprov, Desa Tejoasri tetap terbuka dan menyambut baik agenda itu,” kata Yusuf.
Festival tahun ini diikuti 32 peserta. Jumlah tersebut dipadatkan dalam satu hari penyelenggaraan tanpa mengurangi kualitas pertandingan. Yang menarik, partisipasi peserta dari luar daerah juga meningkat.
“Kurang lebih tujuh daerah yang terlibat. Kalau tahun kemarin kurang lebih enam daerah,” jelas Yusuf.
Artinya, Tejoasri mulai keluar dari sekadar event lokal. Nama desa kecil di Kecamatan Laren itu perlahan mulai dikenal melalui olahraga tradisional yang dikemas menjadi tontonan publik. Kualitas pertandingan pun terlihat semakin kompetitif. Peserta dari berbagai daerah mampu menembus babak semifinal.

“Setiap daerah lolos semuanya ke semifinal dan menunjukkan memang kualitasnya merata,” ujarnya.
Hasil akhir menempatkan Desa Jubeltelor, Sidoarjo, sebagai juara pertama. Posisi kedua diraih Blawi, sedangkan posisi ketiga ditempati Tambakrigin. Sementara Jelat Catur, Lamongan, berada di posisi keempat. Lamongan sendiri mencatatkan dua wakil dalam empat besar, yakni Blawi di posisi kedua dan Jelat Catur di posisi keempat.
Perhatian terhadap festival tersebut juga datang dari Dinas Kepemudaan dan Olahraga Jawa Timur. Muhammad Hadi Wawan Guntoro, S.STP., M.Si., menyebut inisiatif yang lahir dari masyarakat seperti Festival Pacu Jalur Tejoasri layak mendapatkan dorongan agar berkembang menjadi event rutin.
“Tejoasri keren. Pak Kades luar biasa. Inisiatif-inisiatif yang baik seperti ini tentunya kita akan dorong bersama untuk bisa menjadi sebuah event rutin,” katanya.
Menurutnya, perkembangan dari tahun pertama hingga tahun keempat menunjukkan adanya progres yang membanggakan, terutama dari sisi peserta dan antusiasme masyarakat.
Namun, jika ingin naik kelas, festival tersebut membutuhkan pembenahan yang lebih serius. Mulai dari manajemen sponsorship, tata kelola penyelenggaraan hingga kemungkinan penerapan standar pertandingan yang mengacu pada organisasi olahraga terkait.
“Sekira sponsorship-nya harus dimana, ditata. Kemudian nanti harus ada standar, mungkin bisa standarnya PODSI seperti apa,” ujarnya.
Tujuannya bukan sekadar membuat festival semakin ramai. Lebih jauh, event yang tumbuh dari masyarakat tersebut diharapkan mampu melahirkan atlet berprestasi yang membawa nama Lamongan, Jawa Timur hingga Indonesia.
“Kalau sudah ada standardisasi, tentunya nanti akan ada kontribusi prestasi dari Lamongan, Jawa Timur, untuk Indonesia. Harapannya demikian,” katanya.

Festival Lomba Pacu Jalur Tejoasri ini pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Di sepanjang bantaran Bengawan Mati, masyarakat menemukan ruang untuk berkumpul, menikmati hiburan, mendukung atlet, sekaligus melihat desanya menjadi pusat perhatian.
Di sinilah kekuatan sebuah event berbasis masyarakat terlihat. Pemerintah dapat memberikan dukungan. Pemerintah provinsi dapat membuka peluang pengembangan. Dunia usaha dapat masuk melalui sponsorship. Media dapat memperluas gaungnya.
Tanpa warga yang mau hadir, panitia yang bekerja, pemuda yang bergerak dan pemerintah desa yang berani mengambil inisiatif, sebuah sungai hanyalah aliran air. Di Tejoasri, Bengawan Mati justru disulap menjadi panggung kebersamaan.
Karena itu, tantangan ke depan bukan lagi sekadar bagaimana membuat Festival Lomba Pacu Jalur semakin meriah, melainkan bagaimana memastikan festival tersebut memiliki tata kelola yang kuat, standar pertandingan yang jelas, pembinaan atlet yang berkelanjutan dan manfaat ekonomi yang benar-benar kembali kepada masyarakat.
Jika itu mampu diwujudkan, Festival Pacu Jalur Tejoasri tidak lagi berhenti sebagai pesta tahunan di bantaran sungai. Ia bisa tumbuh menjadi identitas desa, ruang lahirnya atlet, penggerak ekonomi warga, sekaligus event olahraga yang membawa nama Lamongan ke panggung yang lebih luas. (Wahyu)








