PAPESA Kota Probolinggo Luncurkan BARBEKQU di CFD Suroyo, Ubah Baju Bekas Layak Pakai Jadi Aksi Peduli Lingkungan dan Sosial

oleh -15 Dilihat
oleh

PROBOLINGGO , SUARA KPK NEWS – Perkumpulan Peduli Sampah (PAPESA) Kota Probolinggo resmi meluncurkan program Barang Bekas Berkualitas (BARBEKQU) dalam kegiatan Car Free Day (CFD) Jalan Suroyo, Kota Probolinggo, Minggu (19/7/2026) pagi. Program tersebut menjadi inovasi baru dalam mengurangi limbah tekstil sekaligus menggalang donasi untuk mendukung berbagai kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan.

 

Peluncuran BARBEKQU mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sejumlah instansi dan lembaga turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Probolinggo, dosen dan mahasiswa Universitas Panca Marga (UPM), serta Rektor Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo bersama para mahasiswa.

 

Ketua PAPESA Kota Probolinggo, Syaifudin Zuhri, mengatakan bahwa BARBEKQU merupakan program yang bertujuan memperpanjang masa manfaat pakaian bekas yang masih layak digunakan sehingga tidak berakhir menjadi sampah.

 

Melalui program tersebut, masyarakat diajak menyumbangkan pakaian yang sudah tidak digunakan namun masih dalam kondisi baik. Selanjutnya, pakaian tersebut disortir oleh relawan PAPESA sebelum dipasarkan kembali kepada masyarakat dengan harga terjangkau.

 

Berbagai jenis pakaian dijual dalam kegiatan tersebut, mulai dari baju anak-anak, pakaian dewasa, daster, celana hingga kemeja. Seluruh barang berasal dari donasi masyarakat yang mempercayakan pakaian bekas layak pakainya kepada PAPESA.

 

Harga yang ditawarkan pun cukup ramah di kantong, mulai dari Rp10 ribu per potong. Selain memberikan kesempatan kepada masyarakat memperoleh pakaian berkualitas dengan harga murah, hasil penjualannya juga memiliki nilai sosial yang besar.

 

Dana yang terkumpul dari penjualan BARBEKQU akan dimanfaatkan sebagai pendukung berbagai kegiatan sosial, edukasi lingkungan, hingga aksi peduli kebersihan yang selama ini rutin dilakukan PAPESA Kota Probolinggo.

 

Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi hari. Banyak pengunjung CFD yang berhenti untuk melihat koleksi pakaian, memilih barang yang masih layak pakai, sekaligus berdialog dengan relawan mengenai tujuan dari program tersebut.

Tidak hanya membuka lapak penjualan, relawan PAPESA juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah, khususnya limbah tekstil yang jumlahnya terus meningkat seiring tingginya konsumsi produk fesyen.

 

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan ruang publik, seluruh relawan PAPESA juga menggelar aksi bersih-bersih atau clean up di sepanjang kawasan CFD Jalan Suroyo setelah kegiatan berlangsung.

 

Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah tidak hanya dilakukan melalui pengumpulan dan pemilahan, tetapi juga dengan memperpanjang umur pakai suatu barang agar tidak cepat menjadi limbah.

 

Program BARBEKQU diharapkan mampu membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola pakaian yang sudah tidak digunakan namun masih memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi orang lain.

 

Kolaborasi lintas sektor dalam kegiatan tersebut juga menjadi salah satu kekuatan utama. Kehadiran pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat hingga relawan menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan membutuhkan kerja sama seluruh elemen.

 

PAPESA optimistis gerakan sederhana tersebut dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk menerapkan konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan kembali barang-barang yang masih layak digunakan.

 

Selain mengurangi timbulan sampah, langkah tersebut juga mampu menciptakan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat budaya berbagi kepada sesama.

 

Ketua PAPESA Kota Probolinggo, Syaifudin Zuhri mengatakan, program BARBEKQU lahir dari keprihatinan terhadap banyaknya pakaian yang hanya menumpuk di lemari, padahal kondisinya masih sangat layak dipakai oleh orang lain.

 

Menurutnya, melalui program tersebut PAPESA ingin memperpanjang nilai manfaat pakaian bekas agar tidak menjadi limbah, melainkan dapat kembali digunakan sehingga mengurangi timbulan sampah tekstil di Kota Probolinggo.

 

“Seluruh hasil penjualan BARBEKQU tidak diperuntukkan sebagai keuntungan pribadi, melainkan akan dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial, aksi lingkungan, edukasi pengelolaan sampah, serta program kemanusiaan yang dijalankan PAPESA,” Jelasnya.

 

Syaifudin juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada masyarakat yang telah mempercayakan pakaian bekas layak pakainya kepada PAPESA. Kepercayaan tersebut menjadi energi bagi komunitas untuk terus bergerak menghadirkan manfaat bagi lingkungan.

 

“Saya berharap semakin banyak masyarakat yang bersedia mendonasikan pakaian yang masih layak pakai daripada membuangnya begitu saja. Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang sekaligus mengurangi limbah fashion,” Pintanya.

 

Selain menjual produk BARBEKQU, PAPESA juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah yang benar serta pentingnya menerapkan gaya hidup berkelanjutan. Edukasi tersebut dibarengi aksi clean up di kawasan CFD sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap kebersihan Kota Probolinggo.

 

“BARBEKQU bukan sekadar lapak penjualan pakaian bekas, melainkan gerakan sosial yang mengajak masyarakat berbagi, peduli lingkungan, dan bersama-sama menciptakan Kota Probolinggo yang lebih bersih serta berkelanjutan,” Ungkapnya.

 

Mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Probolinggo Agus Dwiwantoro, Sekretaris DLH Hariesza Arnas Pirzada menyampaikan apresiasi atas inisiatif PAPESA yang menghadirkan inovasi pengelolaan limbah tekstil melalui program BARBEKQU.

 

“Saat ini tren belanja fesyen, terutama melalui platform daring, membuat masyarakat semakin mudah membeli pakaian baru. Pergantian tren yang cepat juga menyebabkan pakaian lama lebih sering ditinggalkan sehingga memunculkan limbah fashion yang terus meningkat,” Pungkasnya.

 

Ia menilai kehadiran PAPESA menjadi solusi positif karena mampu memperpanjang umur pakai pakaian sekaligus mengajak masyarakat untuk menitipkan baju bekas yang masih layak digunakan daripada langsung membuangnya.

 

“Kami berharap gerakan tersebut dapat menjadi contoh bagi komunitas lain dalam membangun budaya penggunaan kembali barang yang masih bernilai sehingga mampu mengurangi volume sampah di Kota Probolinggo,” Terangnya.

 

Hariesza juga berpesan agar kegiatan BARBEKQU tidak hanya dilaksanakan saat CFD Pasar Minggu, tetapi dapat berkembang menjadi program yang berjalan setiap hari melalui pembukaan outlet maupun posko donasi pakaian bekas di berbagai titik.

 

“Dengan adanya outlet atau posko donasi yang mudah dijangkau masyarakat, gerakan pengurangan limbah fashion akan semakin optimal sekaligus memperluas manfaat sosial dan lingkungan bagi warga Kota Probolinggo,” Tutupnya.

(Syl).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *